Vijay Singh, seorang polisi lapangan menjalani penugasan hukuman dengan menjadi dekan di sekolah kepolisian. Penunjukkannya sebagai dekan justru membuat kelima taruna (baca: mahasiswa) sangat bangga karena akan diajar oleh dirinya.

Namun, hingga satu semester berlalu, Vijay Singh nggak pernah muncul secara in class dalam mengajar para tarunanya. Hal ini membuat kelima taruna tersebut penasaran.

Di sisi lain, Pramod Shukla (Bhupendra Jadawat) salah satu dari kelima taruna tersebut mengajak kedua temannya untuk melakukan sesuatu kepada dosennya yang biasa mengajar di kelas. Mereka cukup kesal karena mendapat nilai terbawah di kelas.

Selain itu motivasi mereka masuk sekolah kepolisian karena ingin mengambil ilmu dari Vijay Singh (Bobby Deol). Namun karena tidak terlaksana, mereka nekat berbuat apa saja dan tidak pernah merasa takut jikalau harus dikeluarkan.

Premis Class of 83 yang sangat menjanjikan

Perbuatan nekat Shukla dan teman-temannya justru menghubungkan mereka dengan Vijay Singh. Mereka sangat bangga bisa berbincang dengan Vijay yang memang menjadi motivasi mereka sejak awal masuk sekolah.

Sementara Vijay melihat mereka cocok dijadikan umpan untuk membongkar masalahnya di masa lalu yang membuat ia menjalani hukuman penugasan. Maka Vijay melatih mereka dengan metodenya sendiri dengan harapan mereka bisa bekerjasama membongkar sistem politik dan kepolisian yang korup.

Class of 83
Sulitnya menjadi bersih di tengah-tengah kotoran/lifestyleasia

Class of 83 arahan Atul Sabharwal ini mengambil latar tahun 1980an dan diangkat dari kisah nyata. Diceritakan polisi senior dan menteri bekerjasama melindungi para gangster, salah satunya Umar Kalsekar (Adesh Bhardwaj), gangster terkuat yang punya jaringan luas dan mampu menyuap siapa pun termasuk para polisi.

Maka perburuan Vijay terhadap Kalsekar ini hanya akan sia-sia belaka. Toh, Kalsekar dilindungi oleh atasan Vijay sendiri.

Di ranah film India sendiri, drama antara polisi bersih versus sistem yang korup sudah sering dilakukan. Bahkan mungkin, karakter polisi sudah menjadi salah satu ciri khas film India itu sendiri.

Tapi memang kejadian seperti ini bukan hanya di India saja. Di Indonesia saja baru-baru ini ditangkap polisi yang pesta sabu bersama anak buahnya. Mereka yang seharusnya menjadi garda terdepan untuk memberantas, malah jadi pelaku.

Narasi penceritaan yang membosankan

Class of 83 mengambil gaya penceritaan melalui narasi karakter salah satu taruna. Bukan Shukla tapi Aslam Khan (Sameer Paranjape), satu-satunya taruna yang masih bisa dipercaya Vijay setelah keempat lainnya justru mengkhianati yang jadi misi mulia film ini. Mereka justru menerima sogokan dari para gangster, dan bergabung dengan mereka.

Siapa yang bisa menjamin mereka akan setia?

Class of 83

Narasi Aslam membawa film ini berjalan sangat lamban. Beberapa adegan yang seharusnya bisa menjadi element of surprise, Class of 83 lebih memilih memberitahu bagian tersebut dengan narasi daripada memvisualkannya.

Belum lagi keputusan film ini melakukan penyuntingan bolak-balik antara masa kini dengan kejadian yang dialami Vijay Singh di masa lalu. Hal ini agak mendistraksi pengalaman menonton saya karena jarak antar waktu tersebut hanya sekitar satu tahun saja.

Perpindahan antar waktu yang sempit tentu tidak akan banyak berbeda secara artistik. Penonton tidak akan bisa merasakan perbedaan suasana yang mencolok antar garis waktunya. 

Class of 83 semestinya tidak mengambil jalan seperti itu. Ia bisa saja bergulir secara linear agar penonton lebih mudah mengikuti jalan ceritanya.

Dan ujungnya, Class of 83 justru terburu-buru menyelesaikan akhirnya. Sebagai film yang diadaptasi dari kisah nyata, Class of 83 hanya memberikan akhir berupa kredit informasi bagaimana nasib para tokohnya.

Topics #bollywood #drama #film impor #kriminal