Selamat datang Agustus

Agustus menjadi bulan yang sangat penting bagi negeri kita, karena di bulan inilah Indonesia menjadi negara yang merdeka. Tepatnya pada tanggal 17 Agustus 1945, proklamasi kemerdekaan dibacakan dan disambut suka cita oleh segenap penjuru nusantara.

Namun peristiwa proklamasi tidaklah datang dengan secepat kilat. Ada banyak proses yang harus dilalui oleh bangsa ini bahkan sejak ratusan tahun sebelumnya. Hingga akhirnya kita bisa hidup bebas dan merdeka dari penjajahan fisik saat ini.

Oleh karena itu, untuk merayakan bulan kemerdekaan Indonesia, kami rekomendasikan 7 film biopik perjuangan yang sarat akan nilai sejarah, filosopis, dan budaya.

Let’s Go!

1. Guru Bangsa: Tjokroaminoto (2015)

Tjokroaminoto menjadi inspirasi para pemuda (termasuk Soekarno) untuk melakukan pergerakan

Film ini menceritakan perjuangan Oemar Said Tjokroaminoto dalam hal menyamakan hak dan martabat masyarakat. Ia jengah melihat kemiskinan dan ketimpangan sosial pada masa Politik Etis sekitar tahun 1900.

Tjokroaminoto yang lahir dari keluarga bangsawan Jawa ini pun rela melepaskan kebangsawanannya dan memilih menjadi kuli pelabuhan. Lalu ia mendirikan organisasi Sarekat Islam yang akhirnya berkembang hingga dua juta anggota.

Tokoh Tjokroaminoto diperankan apik oleh Reza Rahadian. Selain itu film arahan Garin Nugroho ini juga didukung oleh sederet aktor ternama seperti Christine Hakim, Chelsea Islan, dan Deva Mahenra.

2. Sang Pencerah (2010)

Film ini didiskualifikasi dari FFI 2010 dan berujung pada pemecatan juri yang menominasikan film ini

Di daftar kedua, ada film biopik yang menceritakan kisah hidup pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan. Diperankan oleh Ihsan Tarore sebagai Ahmad Dahlan muda dan Lukman Sardi sebagai Ahmad Dahlan dewasa, film ini masuk sebagai jajaran film Indonesia terlaris 2010.

Ceritanya sendiri tentang kegelisahan Ahmad Dahlan muda terhadap pelaksanaan syariat Islam yang melenceng ke arah sesat. Persoalan utamanya adalah masalah kiblat yang selama ini dijadikan patokan bukanlah menghadap ke Mekah, melainkan ke Afrika.

Tentunya, pendapat Ahmad Dahlan ini mendapat pertentangan keras dari para kiai termasuk penghulu Masjid Agung Kauman Yogyakarta. Ahmad Dahlan lalu dituduh balik mengajarkan aliran sesat dan ingin merusak wibawa Masjid Agung.

3. Sang Kiai (2013)

Adipati Dolken berperan sebagai santri KH Hasyim Asyari

Jika Sang Pencerah menceritakan sosok pendiri Muhammadiyah, Sang Kiai bercerita tentang pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH Hasyim Asyari. Film arahan Rako Prijanto ini berlatar saat pendudukan Jepang beberapa tahun sebelum kemerdekaan.

Ternyata pendudukan Jepang tidak menjadikan Indonesia lebih baik dari pendudukan Belanda. Pemerintahan Jepang menyuruh masyarakat Indonesia melakukan Sekerei yakni menghormat kepada matahari. Hal ini jelas mendapat pertentangan dari KH Hasyim Asyari karena hal tersebut tidak sesuai dengan kaidah Islam.

Oleh karena itu, KH Hasyim Asyari bersama para santrinya melakukan perlawanan terhadap Jepang.

4. Kartini (2017)

Acha Septriasa dan Ayushita berperan sebagai saudari Kartini

Salah satu pahlawan wanita yang terkenal adalah Kartini. Ia bukan saja sebagai simbol emansipasi wanita tetapi juga penggerak budaya literasi bagi kaum perempuan.

Cerita bermula dari Kartini (Dian Sastrowardoyo) yang tumbuh dengan melihat keberadaan ibunya yang terusir dari rumah sendiri dan dianggap sebagai pembantu. Dari sinilah Kartini berjuang bersama kedua saudarinya membangun sekolah-sekolah bagi semua masyarakat. Tidak ada perbedaan antara kaum ningrat dan kaum miskin.

Sosok Kartini sendiri sudah hadir di tiga film. Dua yang lainnya adalah R.A Kartini (1984) dan Surat Cinta Untuk Kartini (2016).

5. Sultan Agung (2018)

Ario Bayu mendapatkan piala Pemeran Utama Pria Terpuji FFB 2018 lewat film ini

Jauh lebih mundur lagi ke tahun 1600-an, ada cerita tentang Sultan Agung Hanyakrakusuma. Ia adalah raja ketiga Kerajaan Mataram yang memerintah pada 1613 hingga 1646.

Point utama film ini adalah penyerbuan Mataram ke Batavia sebagai bentuk perlawanan Sultan Agung atas kompromi yang ditawarkan Belanda. Penyerangan ini mengakibatkan banyak korban baik dari pihak Mataram ataupun Belanda.

Beberapa penasihat kerajaan pun meminta Sultan untuk menghentikan penyerangan. Namun Sultan Agung tetap bersikeras karena hal ini ia lakukan bukan untuk di masanya tapi untuk beratus-ratus tahun kemudian.

6. Tjoet Nja’ Dhien (1988)

Tandai kalender dulu ah

Menurut kami, inilah penampilan terbaik Christine Hakim sepanjang karirnya. Berperan sebagai Tjoet Nja’ Dhien, wanita Aceh yang gigih memperjuangkan hak dan martabat bangsa ketika Belanda mulai menduduki Aceh.

Film karya Eros Djarot ini juga menyoroti perasaan dilematis Tjoet Nja’ atas keputusan-keputusannya. Di sisi lain, dilema serupa juga dirasakan oleh Belanda karena pendiriannya Tjoet Nja’ yang nggak ingin menyerah pada Belanda.

Film lawas ini sudah direstorasi dan ditayangkan kembali di bioskop secara terbatas pada 20 Mei 2021 dalam rangka memeringati Hari Kebangkitan Nasional. Sayangnya, karena kebijakan PPKM film ini tidak sempat berkeliling Indonesia padahal sudah dijadwalkan sebelumnya.

7. Soekarno (2013)

Film ini mendapat respon negatif dari Rachmawati Soekarnoputri, sebaliknya diapresiasi oleh Sukmawati Soekarnoputri

Bicara kemerdekaan, maka tak akan lepas dari sosok Soekarno yang menjadi presiden pertama Republik Indonesia.

Film ini merangkum perjalanan populer Soekarno dari ia kecil hingga meninggal. Sepanjang perjalanannya, bukan hanya tentang politiknya tapi kisah asmaranya pun menjadi bumbu manis bagi film yang dibintangi Ario Bayu ini.

Kabarnya film tentang Soekarno akan dibuat menjadi tiga bagian. Dalam suatu kesempatan, Raam Punjabi sang produser, mengatakan bahwa kisah Soekarno tidak bisa dihidupkan hanya dalam dua jam saja. Namun sampai saat ini, belum ada tanda-tanda lanjutannya akan dibuat.

Ketujuh film yang kami rekomendasikan tersebut, sudah tersedia di berbagai layanan streaming legal. Kami melakukan pengecekan manual di katalog layanan streaming tersebut, dan merangkumnya khusus untuk kamu.

NoFilmTersedia di
1Guru Bangsa TjokroaminotoNeflix, Disney+ Hotstar, Mola TV, Genflix
2Sang PencerahVidio, Netflix (12 Agustus)
3Sang KiaiVidio, True ID, Netflix (12 Agustus)
4KartiniMola TV, Vidio, Netflix, Bioskop Online*
5Sultan AgungBioskop Online*, Netflix (17 Agustus)
6Tjoet Nja’ DhienMola TV (17 Agustus)
7SoekarnoVidio, Netflix (12 Agustus)
*versi yang tayang adalah versi Director’s Cut bukan versi bioskop reguler

Trivia

Ini adalah beberapa info penting yang juga wajib kamu tahu tentang ketujuh film di atas:

  • 3 film menjadi wakil Indonesia ke ajang Oscar untuk kategori Best Foreign Film/International Feature Film: Tjoet Nja’ Dhien, Sang Kiai, dan Soekarno.
  • 5 film mendapat penghargaan tertinggi Film Terpuji Festival Film Bandung (FFB): Tjoet Nja’ Dhien (FFB 1989), Sang Pencerah (FFB 2011), Soekarno (FFB 2014), Guru Bangsa: Tjokroaminoto (FFB 2015), dan Sultan Agung (FFB 2018).
  • 2 film mendapat penghargaan tertinggi Film Terbaik Festival Film Indonesia (FFI): Tjoet Nja’ Dhien (FFI 1989) dan Sang Kiai (FFI 2013).
  • 4 film disutradarai oleh Hanung Bramantyo: Sang Pencerah, Soekarno, Kartini, dan Sultan Agung.
  • Tjoet Nja’ Dhien adalah film Indonesia pertama yang tayang di Cannes Film Festival, salah satu festival film internasional terbesar di dunia.
Topics #biopik #film indonesia