Rasa – rasanya hampir semua orang suka menonton film. Atau katakanlah pernah menonton tayangan audio visual baik itu film bioskop, film televisi, atau pun sinetron. Nggak hanya buatan lokal atau dalam negeri sendiri, tayangan asing pun kerap kali diminati penonton. Ya, buktinya serial-serial India dan Turki kerap kali meraup rating tinggi.

Atau saat momen spesial tertentu, televisi juga sering menayangkan film-film asing. Apalagi di bioskop, ragamnya lebih banyak lagi. Ada film Hollywood, Bollywood, Eropa, Malaysia, Thailand, Jepang, Korea Selatan, dan lain sebagainya dengan ragam bahasa yang berbeda-beda pula.

Bicara film asing dan ragam bahasanya, apakah kamu kesulitan memaknai dialog yang digunakan?

Kebanyakan film bioskop, memang menggunakan subtitle yang sudah melalui proses translasi dengan baik. Tapi jikalau di televisi sebagian menggunakan sistem dubbing.

Mengenal subtitle dan dubbing secara singkat

roaring_creations/pixabay

Subtitle atau ya biasa disebut juga dengan teks terjemahan. Biasanya ada di bagian bawah film. Prosesnya nggak sekadar seperti menerjemahkan kata di google translate lho. Tapi ada proses translasi yang panjang dan mungkin rumit. Umumnya penerjemah wajib menonton atau memahami keseluruhan isi film sebelum melakukan proses translasi.

Terkadang ada beberapa konteks bahasa yang sulit diterjemahkan ke dalam bahasa tertentu. Sehingga perlu dicarikan padanan kata yang sesuai dan paling dekat dengan bahasa keseharian penonton. Hal ini demi terciptanya makna adegan agar tidak keluar dari konteks yang seharusnya.

Sementara dubbing adalah proses mengisi suara yang biasanya dilakukan orang lokal dengan bahasa lokal. Jadi kalau kamu sering lihat para karakter di serial India dan Turki itu berbicara bahasa Indonesia, itu bukan mereka yang berbicara tapi para dubber (sebutan untuk orang yang melakukan dubbing).

Keduanya punya kelebihan dan kekurangan masing-masing

geralt/pixabay

Sewaktu kecil kalau saya nonton film India di televisi kebanyakan menggunakan dubbing. Ya, rasanya adegan-adegan yang saya lihat mudah dimengerti tanpa perlu dipusingkan untuk mengartikan kata per kata yang muncul dari para pemeran. Mungkin itu juga yang membuat sebagian tayangan luar di televisi menggunakan dubbing bahasa Indonesia.

Tapi sebelnya, namanya juga dubbing, kadang ada saja gerak bibir yang nggak sesuai dengan panjang dialog. Hal ini berpotensi mengganggu kenyamanan menonton. Apalagi jika frekuensi kejadian tidak sesuai ini berulang kali.

Berbeda cerita lagi ketika saya menonton film luar yang menggunakan subtitle. Saya harus fokus pada teks yang ada di layar dengan gambar yang sedang saya tonton. Awal-awal sih saya merasa kesulitan memaknainya, tapi karena sering menonton, bahkan subtitle rasanya tidak terlalu penting lagi.

Tapi itu terjadi jikalau saya menonton film yang english speaking (berbahasa Inggris). Akan berbeda jika halnya menonton film luar yang non english speaking. Ya semisal nonton film Thailand dengan subtitle bahasa Inggris.

Hal ini membuat otak saya harus melalukan proses translasi dua kali. Menerjemahkan adegan dalam bahasa Thailand ke subtitle bahasa Inggris yang berada di layar. Kemudian secara otomatis menerjemahkannya kembali ke bahasa kita sendiri. Ya lumayan repot, makanya jangan heran kalau ada adegan lucu di layar, ada penonton yang telat ketawa. Hehe.

Itu pengalaman singkat saya ketika menonton film asing. Pada prinsipnya saya lebih senang yang menggunakan subtitle. Karena bisa melatih kemampuan listening saya dan juga menambah kosa kata baru.

 

Kalau kamu sendiri lebih senang yang mana? Boleh berbagi di kolom komentar ya.