“Kalau masih milih-milih peran, bukan aktor namanya. Itu artinya, masih ada sebagian diri sendiri dalam dirinya. Menjadi aktor pun harus totalitas dalam bermain.”

Begitulah kiranya jawaban singkat dari seorang aktor senior ketika ditanya mengenai opininya tentang seni peran. 

Ia pun menambahkan, sepanjang karirnya ia tidak pernah memilih-milih peran dan selalu memerankan karakter apapun dengan baik. Bahkan, ia sering kali dianggap sebagai Ibu Nas (Nasution – red) asli atas perannya sebagai Ibu dari Ade Irma Suryani di Pengkhianatan G30SPKI(1982). 

Siapakah aktor yang dimaksud? Ya, dia adalah Ade Irawan aktor senior yang sudah bermain ratusan film hingga kini.

Bermula dari Agora

Ade Irawan dalam film Pengkhianatan G30SPKI, saat adegan memeluk Ade Irma Suryani

Ade Irawan terjun ke dunia seni peran pertama kali pada tahun 1964 sebagai figuran dalam Diambang Fadjar produksi Agora pimpinan Bambang Irawan, suaminya. Meski kenal Bambang sejak sebelum menjadi aktor pada tahun 1954, mereka baru menikah setelah Bambang populer berkat main di film Tiga Dara (1956).

Setelah itu Ade memang lebih banyak bermain film di rumah produksi milik suaminya sekaligus disutradarai langsung oleh suaminya. Semisal Mahkota (1967), Matahari Pagi (1968), Hanya Satu Jalan (1972), dan Si Janda Kembang (1973).

Namun, ujian hidup harus dialami Ade dan suaminya. Perusahaan Agora gulung tikar setelah produksi Fajar Menyingsing (1975) yang skenarionya ditulis oleh Ade sendiri. Tak lama setelah itu, suaminya jatuh sakit dan meninggal pada tahun 1979.

Ujian hidup ini tak melunturkan niat Ade untuk tetap mengabdi pada profesinya yakni sebagai seorang aktor. Ia tetap bermain dengan banyak sutradara lain seperti almarhum Sophan Sophiaan dalam Buah Hati Mama (1980), Danu Umbara dalam Lima Cewek Jagoan (1980), hingga Sisworo Gautama Putra dalam Nyi Blorong(1982) dan Perkawinan Nyi Blorong(1983).

Ketika ditanya pengalamannya disutradarai oleh berbagai macam sutradara, Ade pun tetap mengenang suaminya sebagai sutradara terbaik. Baginya, meski bermain dengan keluarga, Ade tak pernah menganggap mereka sebagai keluarga tetapi sebagai profesional.

Ingin menjadi sutradara

Ade Irawan sering juga bermain di film-film Rhoma Irama sebagai ibunya Rhoma

Bermain di sejumlah film, rupanya Ade memiliki cita-cita terpendam yakni menjadi seorang sutradara. Pemilik nama asli Arzia Dahar ini merasa tertantang untuk mengikuti jejak suaminya. Meski sampai saat ini, cita-citanya belum kesampaian, ia tetap memiliki harapan yang tinggi menjadi sutradara.

Meski begitu, beberapa sutradara yang pernah bekerjasama dengannya seringkali meminta masukan Ade terkait jalan cerita filmnya. Ade pun sering diminta menceritakan beberapa pilihan akhir cerita sebuah film versi dirinya sebagai bahan brainstorming bagi sutradara.

Di usianya yang sudah lebih dari 80 tahun ini, Ade masih bersemangat menceritakan pengalaman karir berakting dan segala hal yang berkaitan dengan proses produksi film.

“Dulu, paling tidak dalam sebulan ada dua kali workshop perfilman untuk bintang-bintang muda. Sekarang saya jarang menemukan hal yang semacam itu. Padahal workshop itu penting banget buat aktor agar permainannya bisa berkembang bukan semata-mata modal tampang doang”, kenang Ade sembari terlihat ada kegelisahan di raut mukanya.

Ditanya lebih lanjut, ia resah akan regenerasi aktor saat ini. Jumlahnya mungkin banyak, tapi yang menurut Ade benar-benar menjadi aktor mungkin hanya beberapa. Ia pun menambahkan bahwa sekarang banyak produser mencari aktor itu lebih melihat tampang yang ‘kebule-bulean’ daripada kualitas aktingnya.

Namun ia tak menampik bahwa masih ada juga aktor yang betul-betul totalitas dalam bermain. Menurutnya, Donny Damara dan aktor yang segenerasi dengan Donny adalah aktor yang berkualitas. Untuk yang lebih muda dari Donny, Ade menyebut Vino G. Bastian dan Nirina Zubir sebagai aktor yang permainan aktingnya mumpuni.

Punya hobby yang unik

Ade Irawan (tengah) ditemani putrinya Ria Irawan (kedua dari kiri), berfoto bersama setelah ngobrol santai bersama saya dan dua pengurus Forum Film Bandung/Raja Lubis

Aktor yang pernah menerima penghargaan Kesetiaan Profesi dari Dewan Film Nasional pada tahun 1993 ini ternyata memiliki hobby yang unik lho.

Ditemui di salah satu resto di kawasan Jakarta Selatan, Ade pun berbagi hobby-nya kepada kami. Setidaknya ada dua kegemarannya yang menurut kami unik. Apa sajakah itu?

Ade punya kegemaran menyimpan koleksi foto-foto perjalanan karirnya. Bahkan saat Ade memperlihatkan foto-foto dirinya semasa muda, semuanya masih terlihat bagus. Saya bersama rekan pengurus FFB lainnya, Agus Safari dan Arya Pratama, dibuat takjub dengan foto-foto tersebut. Tanpa banyak bicara pun, foto-foto tersebut sudah berbicara mengenai siapa Ade Irawan. Ia adalah aktor yang menghargai setiap waktu yang ia lalui dalam hidupnya.

Selain masih menyimpan foto-fotonya, Ade pun punya kegemaran berburu tanda tangan. Diperlihatkannya pula kepada kami, koleksi tanda tangan yang ia dapat. Bahkan, tanda tangan mantan Gubernur Jakarta Ali Sadikin yang ia dapatkan pada tahun 70-an, masih tersimpan rapi.

“Saya tidak mengajari, saya berbagi apa yang saya dapat. Bahwa hidup itu adalah serangkaian proses. Tugas manusia itu, setelahnya biarkan Tuhan yang bekerja”.

Melalui tanda tangan itu, Ade memberi pesan kepada kami bahwa kita harus berusaha mencapai apa yang kita inginkan. Apapun cita-cita yang kita impikan, raihlah dengan segenap kemampuan kita sebagai manusia, lalu serahkan hasilnya kepada Tuhan.

Bermain di 130 judul

Ade Irawan saat menerima penghargaan Lifetime Achievement Festival Film Bandung 2018

Menurut data filmindonesia.or.id akses pada 14 November 2018, Ade Irawan sudah membintangi 130 judul film Indonesia. Bukan hanya di masa Orde Baru, Reformasi, tetapi hingga masa kini. Terbaru, Ade bermain dalam A Man Called Ahok (2018) bersama dua orang putrinya Dewi Irawan dan Ria Irawan.

Sebelumnya, Ade pun berperan sebagai seorang nenek dalam Dreams (2016), sebuah film yang menceritakan perjuangan Fatin Shidqia Lubis dalam memenangkan sebuah ajang kompetisi. Bagi Ade akting sudah menjadi bagian dari jiwanya. Bahkan ia pun menawarkan diri jika produser membutuhkan peran seorang nenek. Menurutnya, look dalam proses casting itu penting.

Lebih lanjut ia menambahkan, seorang aktor harus tampil senatural mungkin. Meski zaman sudah berkembang dan teknologi makin maju, Ade mengatakan bahwa karakter seorang nenek akan lebih terlihat natural jika diperankan oleh nenek-nenek daripada oleh aktor muda namun didandani seperti nenek-nenek.

Lalu apakah keaktifannya di usia senja sempat dihalangi oleh putri-putrinya?

“Pernah tuh Dewi, dimarahin sama orang katanya biarin saya sendirian di jalan. Padahal sayanya yang memang suka keukeuh (bersikeras) pergi sendiri. Terus kalau mau nonton ke bioskop, saya jalan aja sendiri ke bioskop. Ini sih yang bikin Dewi dan Ria khawatir”.

Ade Irawan yang juga pernah bermain dalam film-film Rhoma seperti Begadang (1978), Rhoma Irama Berkelana II (1978), masihlah mengikuti perkembangan film Indonesia masa kini. Ia sering menonton film Indonesia sendiri ke bioskop. Meski diakuinya, banyak juga film Indonesia yang terlewat karena menggunakan judul bahasa asing.

Bagi Ade, penggunaan judul bahasa asing itu menyurutkan niatnya untuk menonton karena dianggap bukan film Indonesia. Tapi, Ade memaklumi jika banyak judul bahasa asing yang mungkin jika dialihbahasakan akan terdengar kurang enak. Ia pun mencontohkan film terbarunya A Man Called Ahok.

“Coba bayangkan jika judulnya, Lekaki Bernama Ahok, kan nggak enak ya mas?”, tanyanya pada kami yang diikuti senyum merekah dari aktor yang juga bermain di Puspa Indah Taman Hati dan Gita Cinta dari SMA.

Senang Menulis

Ade Irawan bersama ketiga putrinya (Ria, Dewi, dan Atrie). Dua nama yang disebut pertama mengikuti jejaknya sebagai aktor hebat Indonesia/kompas.com

Di sela-sela aktivitasnya menjalani proses syuting, Ade Irawan pun senang menulis. Baginya menulis untuk mengasah ingatannya dan menumpahkan aspirasinya. Ade seringkali menulis puisi sebagai bentuk pemikiran dan pandangannya terhadap suatu peristiwa yang terjadi. Menurutnya, itulah salah satu bentuk keprihatinan serta kepedulian Ade terhadap kondisi bangsa.

Di depan kami, Ade Irawan mendeklamasikan puisi yang ia buat tanpa membaca teks. Sungguh suatu kesempatan langka bisa menyaksikan aktor kelahiran 5 April 1937 ini menunjukkan kemahirannya berpuisi.

“Saya lansia, saya Indonesia

Saya manula, saya Pancasila

Saya jompo, saya orapopo”

Begitulah akhirnya perbincangan kami dengan Ade Irawan. Sungguh suatu kehormatan bisa mendapat ilmu dan pengalaman dari aktor senior yang juga menulis skenario Belas Kasih (1973). 

 

 Artikel ini telah dipublikasikan di Majalah Khusus Festival Film Bandung 2018.

Topics #aktor #profil