‘Bahasa Menunjukkan Bangsa’


Itulah kiranya salah satu peribahasa yang masih saya ingat ketika pelajaran Bahasa Indonesia dulu. Saya sangat suka sekali dengan Bahasa, sampai-sampai waktu penjurusan SMA saya memilih Bahasa. Namun, ya karena IPA terkesan lebih ‘atas’, akhirnya saya pun masuk jurusan IPA. 

Tapi rupanya, takdir tetap menuntun saya pada Bahasa. Saya bisa kuliah di jurusan Bahasa Inggris dan menyelesaikannya dengan IPK 3,5. Not bad lah.

Sewaktu menjadi mahasiswa, ada materi kuliah yang membahas tentang asal-usul kata/bahasa. Dosen bertanya kenapa benda yang biasa diduduki orang disebut kursi, kenapa benda yang mengalir disebut air. Dan sejumlah kenapa lainnya.

Para ahli banyak mendefinisikan pengertian bahasa. Tapi singkatnya, bahasa adalah bentuk kesepakatan suatu kelompok sebagai alat komunikasi. Tanpa adanya kesepakatan, orang-orang dalam suatu kelompok tidak dapat saling mengerti apa yang mereka komunikasikan.

Bicara bahasa dalam film, ia punya peranan yang sangat penting. Semisal penggunaan subtitle yang memudahkan penonton mengerti apa maksud film meski si penonton tidak mengenal bahasa yang digunakan dalam film tersebut.

Tapi apakah ada film yang menceritakan tentang bahasa itu sendiri?

 

Bicara tentang pembuatan Kamus Oxford

 

Murray yakin bisa menyelesaikan projeknya dalam 5-7 tahun

 

The Professor and The Madman film arahan Farhad Safinia (di filmnya tertulis P.B. Shemran) bicara tentang dunia bahasa. Film ini menceritakan sekelumit kisah di balik layar penyusunan Kamus Oxford. Adalah Prof. Murray (Mel Gibson), seorang Scotlandia yang ditunjuk untuk menangani projek besar perumusan kamus ini di bawah perintah kerajaan Inggris Raya.

Namun, Murray seringkali dipandang rendah oleh para koleganya karena dinilai tidak memenuhi kualifikasi akademik. Ia putus sekolah di usia remaja, lalu belajar otodidak di perpustakaan. Tapi keinginan belajarnya yang sangat membumbung tinggi membuat ia bisa menguasai berbagai macam bahasa penting di dunia. 

Cita-citanya dan rasa cintanya terhadap bahasa ini, membuat Murray yakin bisa menyelesaikan projek ini dengan sebaik-baiknya. Akhirnya ia mendapat ide untuk menggandeng sukarelawan dari mana pun mereka berasal selama mereka berbahasa Inggris.

Murray pun membuat pengumuman di segenap penjuru wilayah, yang mengajak masyarakat menjadi bagian dari projek tersebut dengan mengirimkan entri kata dan maknanya. 

 

Ada peran penting William Chester Minor dalam kesuksesan Murray

 

Persahabatan Murray dan Minor yang menghasilkan karya luar biasa

 

Pengumuman Murray tentang sukarelawan Kamus Oxford sampai juga ke telinga William Chester Minor (Sean Penn). Minor adalah seorang pasien rumah sakit jiwa yang dituduh gila karena telah membunuh seseorang.

Adegan pembunuhan yang dilakukan Minor menjadi pembuka The Professor and The Madman. Pembuka film ini cukup intens memperkenalkan siapa Minor. Sang sinematografer sangat handal membingkai adengan Minor mengejar seseorang tersebut untuk dibunuh. 

Tidak hanya ketika adegan pembunuhan, kelihaian sinematografer terlihat juga saat adegan Minor disidang atas perbuatannya. Kasper Tuxen yang dipercaya menangani departemen ini, membingkai frame mulai dari adegan pembelaan Minor dengan latar peserta sidang, sejurus kemudian membingkai istri korban dengan teknik close up. Kedua teknik ini sangat mampu menjembatani emosi karakter untuk sampai pada penontonnya.

Selanjutnya, sama halnya dengan pola editing The Mystery of The Dragon Seal, penyuntingan The Professor and The Madmanpun dilakukan bergantian antara mengisahkan Minor di rumah sakit jiwa dan Murray di tempat kerja. 

Saya sarankan penonton untuk fokus pada dialog dan detail ketika menonton film ini, karena banyak detail yang menjadi penunjang konflik utama. Yang mungkin jika terlewat, bakal terasa ada bagian yang berlubang.

 

Sajikan kisah kemanusiaan yang menyentuh

Tidak mudah menjadi Eliza Merret, suaminya dibunuh, dan meninggalkan enam orang anaknya

 

The Professor and The Madman bukan hanya sebatas menggambarkan bagaimana rumitnya penyusunan Kamus Oxford, tapi juga rahasia di balik layarnya. Minor dalam keadaannya di rumah sakit jiwa, menjadi sukarelawan terbesar dengan menyumbang ribuan entri bagi Murray. Hal ini juga yang membuat Murray mengunjungi rumah sakit tempat Minor dirawat.

Barulah Murray mengetahui keadaan Minor yang sesungguhnya. Meski begitu, Murray tetap menganggap Minor adalah sahabatnya. Ia tidak mengecilkan kontribusi Minor terhadap projeknya. 

Keberanian The Professor and The Madman menceritakan kisah Minor, bisa dibilang sangat menghargai nilai-nilai kemanusiaan. Bagaimana pun keadaan seseorang, ketika ia mampu berkontribusi untuk kepentingan umum ia layak mendapat apresiasi.

Kisah-kisah kemanusiaan dan welas asih, tidak hanya ditunjukkan melalui persahabatan Murray dan Minor semata. Karakter Eliza Merret (Natalie Dormer), istri korban pembunuhan Minor, juga menunjukkan hal serupa. Ada sifat welas asih dalam diri Eliza Merret. Meski untuk sampai pada tahap itu, butuh proses yang teramat panjang.

 

Mengapa ia membunuh?

 

Mungkin saat baca ulasan ini, kamu bertanya-tanya kenapa Minor yang juga seorang dokter itu bisa melakukan pembunuhan dan dituduh gila. Apakah ia benar-benar gila, atau suatu kesengajaan?

Saya sengaja tidak membocorkannya karena itu akan menjadi element of surpriseketika kamu menonton film ini. Sekaligus menjadi dasar kenapa The Professor and The Madman bisa tampil menyentuh dan mengusik nurani penontonnya.

Nonton The Professor and The Madman hanya di Mola TV

Semenjak bioskop tutup, Mola TV menjadi salah satu alternatif layanan streaming untuk menonton film.  Terlebih di Mola TV banyak film-film ekslusif yang berlatarkan Eropa atau menceritakan kisah-kisah sejarah di Eropa. Semisal perjalanan ahli kartografi Inggris, Jonathan Green, dalam film The Mystery of The Dragon Seal, atau kisah hidup Amos Bardi, seorang penyanyi opera asal Italia, dalam film The Music of Silence.

Film-film berlatar Eropa itu menjadi kelebihan utama Mola TV, mengingat jarang sekali bioskop reguler Indonesia memutar film-film seperti itu.

Dan untuk menyaksikan bioskop exclusive Mola TV ini, biayanya berlangganannya cukup terjangkau. Beberapa waktu lalu, saya cukup mengeluarkan uang sebesar minimal Rp. 12.500,- untuk paket Movies. Dengan paket ini saya sudah bisa menyaksikan berbagai pilihan film dari seluruh dunia. Tapi sekarang Mola TV bekerja sama dengan HBO GO meluncurkan paket HBO GO seharga Rp. 65.000,-. Dan saya langsung beralih mencoba paket ini, karena bisa menonton film-film dan series HBO GO yang ada di Mola TV.

Untuk informasi lebih lengkap mengenai fasilitas dan perbedaan paket yang ada di Mola TV bisa dicek di gambar berikut.

Ragam paket Mola TV/tangkapan layar Mola TV Web

 

 

Sebagai pecinta film, tentu kehadiran Mola TV dengan ragam film eklusifnya sangat bagus untuk menambah referensi saya.

Topics #drama #eropa #film impor